Not even in my “quarter-life”, but I think I’m in a little crisis

Belakangan ini, saya sepertinya sedang mengalami burnout. Saya tidak tahu pasti, dan dibanding cerita-cerita yang saya baca di internet tentang mereka yang mengalami burnout jangka panjang bahkan sampai depresi, yang saya alami belum terlalu kronis. Namun, cukup menganggu saya.

Sebagai konteks, saat saya menulis ini, saya masih kuliah, tepatnya sedang beranjak menuju semester 5. Saya tidak bekerja untuk mencari uang, kerjaan-kerjaan yang akan saya singgung di tulisan ini adalah kerjaan-kerjaan organisasi dan kepanitiaan yang saya ikuti.

Mungkin yang sedang menjalani perkuliahan sekarang paham bagaimana kultur organisasi saat ini. Program kerja ini, program kerja itu. Acara ini, acara itu. Tiba-tiba, to-do list tambah panjang tiap harinya. Saya sendiri tergabung di dua organisasi intrakampus dan satu organisasi ekstrakampus serta beberapa kepanitiaan lain dengan jangka waktu tertentu. Awalnya, saya bahkan tidak tertarik sama sekali untuk ikut organisasi seperti himpunan jurusan. Namun, saya melihat teman-teman saya mendaftar, saya pun jadi penasaran dan tidak mau ketinggalan. Waktu SMA, saya bukan orang yang aktif berorganisasi, jadi sejujurnya saya tidak terlalu tertartik, tapi waktu itu saya pikir, “ya udah, coba aja, deh”, dan saya pun mendaftar.

Setelah mulai berkecimpung di dunia organisasi, saya sadar saya orang yang tidak enak menolak sesuatu. Saya hampir selalu mengiakan permintaan siapa pun walaupun itu akan membuat saya kerepotan sendiri. Namun, saya juga menyadari hal lain, walaupun mengeluh karena kerjaan kian menumpuk, dalam hati, saya ternyata cukup senang — atau, mungkin bukan senang, lebih ke merasa puas dengan diri saya sendiri ketika saya bisa menyelesaikan banyak hal. Saya senang bekerja dan menyelesaikan kerjaan saya. Saya senang merasa kompeten. Melihat orang lain bekerja juga memotivasi saya untuk mencoba banyak hal dan terus menambah to-do list saya sendiri. Namun, baru-baru ini, saya jadi melihat semuanya dari perspektif yang berbeda.

Saya kurang yakin apa persisnya yang menyebabkan perubahan perspektif ini, mungkin rasa jenuh dan muak akan kerjaan yang repetitif. Saya duduk menatap to-do list saya yang menumpuk (karena saya sejujurnya deadliner juga), dan saya berpikir “sebenarnya ini semua buat apa, sih?”

Saya kuliah di jurusan Kedokteran, jurusan praktikal, yang ketika lulus, ya jadi dokter. Ketika merenungkan kerjaan saya di organisasi selama ini, saya tidak melihat bagaimana itu bisa berguna untuk pekerjaan saya di masa depan. Mungkin akan ada yang berargumen “yang dilatih soft skill-nya, kebiasaan kerjanya, dan lain-lain”, oke, saya setuju, tapi menurut saya, itu bisa dilatih tanpa harus mengerjakan program kerja segunung dan melibatkan diri di terlalu banyak kegiatan. Cukup beberapa saja untuk pengalaman menurut saya sudah baik.

Namun, ketika saya merenung lebih jauh lagi, saya mulai berpikir, memangnya masa depan hanya untuk kerja? Ya terus kenapa kalau saya jadi dokter, memangnya tidak boleh punya skill lain? Saya lalu merenung terus dan akhirnya sampai ke pertanyaan sejuta umat, “kita hidup buat apa, sih?”

Mungkin terdengar klise, tapi ketika itu berputar-putar di pikiran selama berhari-hari, sambil tetap mengerjakan berbagai kerjaan karena dikejar deadline, rasanya sungguh tidak menyenangkan. Saya menjadi agak sinis terhadap semua yang saya kerjakan dan tentunya kerjaan saya menjadi tidak maksimal. Semuanya saya kerjakan seadanya karena saya pikir, “buat apa juga, ini nggak penting.”

Ditambah lagi, ketika melihat pencapaian teman-teman saya di bidang akademik, saya juga jadi makin ciut. Saya bukan orang dengan prestasi akademik yang gemilang. Oke, saya harus bersyukur dengan apa yang saya peroleh, tapi kalau mau jujur, saya juga sudah tidak terlalu mementingkan nilai sejak lama. Saya pernah menjadi orang yang sangat terobsesi mendapatkan nilai bagus. Waktu SMP, saya belajar mati-matian karena ingin masuk ke SMA favorit (akhirnya nilai saya bagus dan cukup untuk masuk SMA negeri mana pun di Jakarta termasuk yang passing grade-nya paling tinggi, tapi akhirnya saya masuk SMA di tempat lain karena satu dan lain hal). Setelah itu, saya perlahan mulai melepaskan ambisi saya untuk mengejar nilai. Saya sadar bahwa sekalipun kita sudah bekerja keras, kadang tujuan kita tidak tercapai karena banyak faktor lain yang mempegaruhi. Tentu saja saya tetap cukup rajin ketika SMA, dan nilai-nilai saya cukup memuaskan, tapi saya tidak terlalu peduli lagi — kalau dapat nilai jelek, ya sudah, tidak apa-apa.

Dan itu terbawa sampai kuliah. Walaupun ketika melihat teman-teman saya yang nilainya bagus ketika ujian saya kadang merasa “aduh, kapan gue bisa kayak mereka? Kenapa gue bodoh dan malas banget belajar? Kenapa gue nggak bisa kayak mereka?” tapi sejujurnya, saya tidak terlalu peduli. Kalau dipikir-pikir, saya kadang ingin mencapai ini-itu karena tidak mau dianggap “kurang” oleh orang lain, walaupun sebenarnya saya tidak terlalu menginginkan pencapaian tersebut. Singkatnya, ya, mencari validasi.

Namun, saya jadi bertanya-tanya lagi. Kalau saya tidak tertarik dengan kehidupan organisasi, kehidupan akademik pun standar-standar saja, saya tidak punya ambisi untuk masa depan saya, jadi apa tujuan saya di dunia ini?

Saya tahu, saya tidak harus menemukan jawabannya sekarang. Bahkan, banyak orang tidak tahu apa tujuan hidup mereka sampai puluhan tahun sudah menjalaninya, atau bahkan, banyak juga yang tidak sempat tahu apa tujuan hidup mereka. Bukan berarti itu hal buruk. Mungkin mereka yang sudah telanjur pergi tanpa tahu untuk apa mereka dilahirkan, menjalani hidup yang bahagia dan itu saja sudah lebih dari cukup.

Jadi, setelah terus merenung, saya memutuskan bahwa untuk sekarang, saya akan mencoba berusaha lebih memaknai apa yang saya lakukan sehari-hari. Hal kecil yang sudah saya lakukan tentang hal tersebut adalah terkait membaca buku. Saya suka membaca buku dan menggunakan Goodreads untuk sekaligus menargetkan setahun membaca sejumlah berapa buku. Tahun 2020, saya membaca 102 dari target saya 100 buku dan saya bangga sekali. Namun, mulai sekarang, saya memutuskan untuk tidak menaruh target berapa buku yang saya baca dan hanya akan membaca kapan pun dan berapa pun buku yang akan saya baca. Sebab, saya merasakan sendiri, bagaimana rasanya buru-buru ingin menyelesaikan buku demi mengejar target bacaan di Goodreads dan akhirnya, tidak menikmati bacaan saya.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga sempat menolak ajakan bergabung di suatu kepanitiaan. Awalnya saya tergoda sekali untuk mengiakan karena tidak enak, walaupun saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak bergabung di kepanitaan apa pun lagi. Untungnya, saya kemudian membicarakan hal ini dengan pacar saya (yang harus terus-menerus mendengarkan saya mengoceh soal kerjaan saya) dan dia mendorong saya untuk menolak ajakan tersebut, dan saya sangat bersyukur akhirnya saya bisa menolak kerjaan untuk pertama kali sejak entah berapa lama saya hampir selalu mengiakan.

Mungkin langkah-langkah yang saya lakukan di atas belum terlalu signifikan, tapi saya pikir, langkah-langkah kecil perlu diambil untuk terus berjalan, dan siapa tahu, jika saya cukup sabar dan terus berjalan, saya akhirnya akan menemukan tujuan saya hidup — mungkin saya akan menemukan ambisi saya, atau mungkin juga saya ingin menjalani hidup yang tenang dan sederhana. Apa pun itu, saya tidak akan tahu kalau saya tidak terus berjalan. Doakan saya, ya. Saya juga berharap orang-orang baik di luar sana juga sedang berjalan menuju hidup yang mereka inginkan. Semoga.

nothing interesting, just sometimes need to get some thoughts out of my head in a somewhat *creative* way